Thursday, 14 February 2013

My Rubik 4 (ending)


 #AUGIE#
Pagi ini terasa berat, aku bangun dengan sedikit malas. Ya malas menghadapi kenyataan tepatnya. Segera ku usir rasa mala situ dan pergi ke kamar mandi. Tepat pukul 07.00 aku berangkat dari rumah menuju ke sekolah lama Hanna.
Hampir setengah jam aku menunggu Hanna di gerbang sekolah, aku sengaja datang lebih awal. Aku tak ingin membuat Hanna menunggu. Tepat jam 08.15 aku melihat sosok Hanna berlari-lari kecil menghampiriku.
Segera ku pacu motorku menuju terminal, tak ada percakapan yang kami lakukan selama perjalanan. Ya kami hanya terdiam. Masih tak ku sangka semua ini terjadi, bus itu akan segera pergi. Pergi membawa dia dan cintanya.
Satu hal yang selalu terngiang di ingatanku : “Inget jangan pernah bilang keberadaan aku ke siapapun atau dalam keadaan apapun”, itu yang selalu Hanna ucapkan. Aku berjanji penuhi semua keinginanmu.


#HANNA#
Bus ini mulai berjalan meninggalkan terminal, meninggalkan dia dan semua keindahan di kotaku. Tak terasa air mata ini membanjiri pipiku, sampai ada seorang ibu yang menanyakan keadaanku. Mungkin dia khawatir melihat keadaanku.

**

Sesampainya di Serang …
Aku tak percaya bahwa sekarang aku sudah benar-benar meninggalkan kotaku, aku pun turun dari bus itu dan duduk di terminal untuk menunggu kakakku menjemput.

Segera kucabut sim card dan memotongnya sambil menangis. Dan kuganti dengan sim card yang baru. Lalu kupencet nomor yang sudah sangat kuhapal.
“Hay sayang, ini aku Hanna. Aku udah sampe terminal Serang nih, save ya nomer baru aku” ucapku pada Augie.
Lalu dia menjawab, “Oh kamu udah sampe ? terus kakak kamu udah jemput belum ?”.
“Belum, mungkin sebentar lagi. Entar kalau udah sampe rumah aku sms”. ucapku.

Tak lama kakakku datang ke terminal itu, tanpa banyak bicara segera kami pergi menuju rumah ayahku.
Perjalanan ini terasa sangat melelahkan, sangat melelahkan. Hampir dua jam aku hanya duduk di motor menikmati perjalanan yang sama sekali tak terasa indah.

Akhirnya aku sampai di rumah ayahku …..
Semua keluarga menyambutku dengan penuh keharuan, ya karena memang sedari kecil aku tidak pernah bermain kesini. Semua terasa asing bagiku, kehidupan baru ini membuatku bingung. Apa aku bisa menjalani delapan bulan disini ? Ah entahlah kucoba hadapi semua dengan tabah.


#AUGIE#
Semenjak kepergiannya tadi pagi, aku hanya ingin menghabiskan waktu di kamarku. Tak ada keinginan untuk berangkat kuliah atau sekedar berbincang dengan mamah yang kebetulan sudah datang dari luar kota.
Aku hanya memandangi handphone yang sedari tadi hanya tergeletak di meja kamarku. Hanna tak menghubungiku sejak kita berpisah di terminal itu. Aku semakin merasa tak enak hati, aku takut terjadi apa-apa kepada Hanna.

Ditengah kegelisahan itu, akhirnya Hanna menghubungiku dan menyampaikan bahwa dia sudah sampai di tempat ayahnya. Aku merasa lega mendengar pernyataannya. Baru saja akan kurebahkan tubuh ini ke tempat tidurku, tiba-tiba ada telepon masuk. Ini pasti Hanna, tapi ternyata perkiraanku salah besar.
“Halo, Gi. Ini mamahnya Hanna. Kamu lagi sama Hanna nggak ? Dia sampe malem gini belum pulang”. terdengar suara mamah Hanna dari sebrang sana.
Aku merasa gugup, “Hmm aku nggak sama Hanna tante, ini baru pulang kuliah. Hanna nggak telepon aku seharian ini”.
“Oh yaudah, tante coba tanya temennya yang lain”. ucap mamah Hanna sambil menutup teleponnya.

Aku merasa bersalah telah berbohong kepada mamahnya Hanna, aku tahu bagaimana khawatirnya mamah Hanna saat ini. Tapi apa daya, ini janjiku pada Hanna. I’ll keep my promise.


#HANNA#
Udara malam ini terasa sangat menusuk tulangku, merobek semua lamunanku yang sedari tadi bergelayutan di pikiranku. Aku merasa sangat menyesal atas semua ini, tapi tak ada gunanya aku terus meratapi ini semua. Lusa adalah hari pertamaku di sekolah baru, dan hari dimana semuanya akan berubah. Aku mulai memakai hijab.

**

#AUGIE#
Dua hari sudah kamu pergi tinggalkan kota ini, masih tersisa ratusan hari penantianku. Senin di awal Oktober ini memang menjadi monster day bagiku, tak ada kamu lagi disini. Ah sudahlah cukup lamunan di pagi yang cerah ini, aku harus segera pergi ke kampus.

**

Empat hari kemudian …..
Hari ini perasaanku tidak enak, seperti ada hal buruk yang akan terjadi. Tapi tetap kupacu motorku menembus jalanan menuju rumahku, kupikir ini hanya karna pikiranku memang masih sangat kacau setelah kepergian Hanna.

Tak lama di belokan terakhir menuju rumahku, tiba-tiba ada sekelompok geng motor yang menghentikan motorku.
“Turun lo !!!” teriaknya begitu kencang.
Aku sedikit gugup, “mau apa lu ? ada urusan apa ?”.

Tanpa banyak basa-basi salah satu dari mereka meninju perutku dengan kencangnya, rasanya sesak dan mual. Mereka terus memukuliku dengan sadisnya. Sempat kudengar pertanyaan terakhir mereka sebelum pergi meninggalkanku.
“Sore lu datang ke rumah Hanna, bawa dia pulang !! Awas aja kalo lu gak bawa Hanna, nyawa lo urusannya!!” teriaknya begitu kasar.
Lebam ditubuh ini begitu jelas terlihat, tapi aku nggak akan kasih tau Hanna. Aku takut dia khawatir dengan keadaanku, akan kucoba hadapi semua ini.

**

Sore itu aku datang ke rumah Hanna, terlihat mamah Hanna dan orang-orang yang tadi siang memukuliku. Oh aku baru ingat ternyata itu teman rumah Hanna yang kebetulan anggota geng motor ternama di kota ini. Pantas saja mereka begitu beringas.
Terlihat raut wajah mamah Hanna yang tidak bersahabat.
“Sore tante” ucapku sedikit bingung.
“Udah nggak usah basa-basi, kamu pasti tau kan Hanna dimana. Karena malam itu Hanna sama kamu seharian, dan setahu tante cuma kamu yang deket sama Hanna akhir-akhir ini” jawabnya dengan nada tinggi.
Aku sedikit gugup, “aku nggak tahu tante, aku losecontact sama Hanna. Aku nggak tahu tante beneran”.

Terlihat salah satu dari anggota geng motor itu beranjak dari duduknya.
“Lo nggak usah bohong lagi, pasti lu dalang semua ini. Kalo lo nggak mau ngomong, nyawa lo gua habisin” ucapnya sambil meninju lagi pipiku.
Aku berusaha untuk kuat, “gue beneran nggak tau Hanna dimana”.
Tak kuduga satu tamparan mendarat di pipiku, ternyata mamah Hanna.
“Pokoknya kalo sampe ada apa-apa sama Hanna, kamu yang bakal tante cari”. ucapnya sambil mengusirku.

Aku pergi dari rumah Hanna, semua berubah karena kejadian ini. Aku merasakan sakit yang sangat dalam, bukan karena tamparan atau pukulan ini. Tapi karena aku hanya bisa terdiam dan terdiam. Kupacu motor menuju tempat favoritku bersamanya, ya bukit bintang.


#HANNA#
Sudah seminggu ini aku mulai membiasakan diri di sekolahku yang baru, berbeda sekali dengan sekolahku yang dulu. Tapi inilah resiko dari setiap pilihan. Saking sibuknya di sekolah baru, ternyata aku tak menghubungi Augie selama seminggu ini. Baru saja aku berniat menghubunginya, tiba-tiba ada panggilan masuk ke handphoneku.
“Hallo cil, ini gue Oby. Kabar lu gimana disana ? Baik aja kan” Tanya Oby di telepon.
Aku menjawab dengan gembira, “gue baik, By. Ada apa kok tumben telepon gue ?”.
Terdengar helaan nafasnya, “Lu jangan marah ya cil, si Augie dipukulin temen rumah lu. Ditampar sama mamah lu lagi, mukanya sampe babak belur cil”.
“Beneran By ? Kok dia gak ada kasih tau gue ya ?” tanyaku penasaran.
“Mungkin dia nggak mau buat lu khawatir cil, udah cepet lu hubungin dia” jawab Oby.

Segera kututup telepon itu …
Dan kupencet nomor Augie di handphoneku, terdengar suara operator berbicara dengan manisnya, “maaf nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif”. Berkali-kali kucoba menghubunginya, hasilnya tetap sama. Kekhawatiranku kian memuncak, aku terdiam di sudut kamarku memikirkannya.

**

Dua hari kemudian …
Terdengar suara handphoneku berbunyi, tanda ada panggilan masuk. Aku sudah yakin itu pasti Augie, tapi ternyata tebakanku salah. Itu mamahnya Augie.
“Halo, Han. Gimana kabar kamu baik ? Betah di sekolah baru ?” sapa mamah Augie lembut.
Aku sedikit tersenyum, “Iya halo, Tante. Alhamdulilah kabar aku baik, aku juga betah kok disini”.
“Hmm gimana ya ? Maaf nih kamu lagi sibuk nggak ? Augie dirawat di RS, kalau bisa kamu dating kesini ya, Ugi manggil-manggil nama kamu terus” ucap beliau dengan nada sedih.
Aku terdiam sejenak, “Gimana ya tan ? Aku takut buat kesana, aku takut banget tan. Nanti aku kabarin lagi deh”.
Lalu kututup telpon itu, aku merasa bersalah karena bersikap tak sopan kepada mamah Augie. Tapi saat itu aku benar-benar bingung dan sedih.

**

Beberapa hari aku berpikir langkah apa yang harus kuambil. Entah bisikan atau perintah dari mana aku bisa mengambil keputusan seperti ini. Aku memutuskan untuk mengganti kartu dan akan menghilang dari kehidupan Augie. Aku merasa telah banyak menyusahkannya, aku tak mau membuatnya lebih menderita lagi dengan menungguku kembali kesana. Segera kuhubungi mamahku dan memberitahukan bahwa aku berada di rumah ayah. Aku ingin semuanya tuntas, dan aku akan terus mendoakan yang terbaik untuk Augie. Sulit memang menjalani hari tanpa kamu, tapi aku harus bisa. Semua demi kebaikan dan kebahagiaanmu Augie.

**

#AUGIE#
Hampir seminggu aku terkapar di ruangan yang meletihkan ini, ya rumah sakit lebih tepatnya. Tapi tak kulihat Hanna dating menjengukku disini, aku mencoba mengerti dengan semua keadaan ini. Aku yakin pasti Hanna masih terlalu takut untuk datang  kesini. Lalu kuambil handphone yang hampir seminggu mati total, tak lama terdengar nada sms masuk ke handphoneku. Ternyata dari Hanna.

“Saat baca sms ini aku harap kamu udah sembuh, maaf aku nggak bisa datang kesana. Nyali aku terlalu ciut untuk itu. Maaf untuk beberapa bulan ke belakang yang sangat menyakitkan untuk kamu. Maaf gara-gara aku lagi, penyakit kamu kambuh lagi. Dan maaf sekali lagi karena aku nggak bisa lagi jalani semua sama kamu. Lebih baik kita jalan masing-masing, itu lebih indah. Jangan tunggu aku lagi, aku nggak akan kembali!!! Maaf dan terimakasih J”.

Isi sms itu memang singkat, tetapi begitu menyakitkan untukku. Kubaca berulang kali, kuharap ini semua hanya mimpi. Tapi teks sms itu masih tetap sama. Segera kuhubungi dia, tapi mungkin dia sudah mengganti nomornya. Ya mungkin dia benar-benar tak ingin lagi berjuang bersamaku. Aku hanya bisa menangis di atas tempat tidur ruanganku, mungkin aku memang sangat cengeng.

**

#HANNA#
Tiga bulan kemudian ….
Perasaan ini masih tetap sama, semua masih terlihat jelas di benakku. Sulit untuk melupakannya, sangat sulit kurasa. Tak kudengar lagi kabar darinya, lebih tepatnya menghindar dari semua yang akan menghubungkanku padanya. Sakit rasanya terus berpura-berpura dalam kebohongan ini. Tapi tak ada lagi yang bisa kulakukan. Saat ini aku sedang sibuk dengan segala Try Out, Ujian Latihan dan semua pembekalan menuju UAN. Setidaknya aku mempunyai kesibukan untuk menghilangkan kesedihan ini.

**

Tepat tanggal 29 Maret 2011 ….
Malam itu aku sedang duduk di teras dengan saudara perempuanku, namanya Devi. Dia yang selalu menemaniku selama tinggal di rumah ayahku. Ditengah obrolan tiba-tiba Devi meminta sesuatu dariku.
“Teh liat FB nya si Augie sih, aku pengen liat banget kayak gimana orangnya” ucapnya polos.
Aku sedikit terkejut, “buat apa ? udah lah nggak usah”.
Dia terlihat cemberut, “cepet, Teh. Masa liat aja nggak boleh, ayo dong”.

Ahirnya aku mengalah, karena aku tau watak dia yang pantang menyerah kalau menginginkan sesuatu. Segera kuambil handphone dan kubuka facebook yang beberapa bulan tak kubuka. Kuketik nama Augie di kotak pencarian, dan segera kutelusuri profil FB nya. Saat kulihat profil FB nya, aku sempat merasa kaget. Aku lihat banyak sekali ucapan belasungkawa di wallnya. Aku bingung, ada apa ini ? Siapa yang meninggal ? Segera kucari FB sahabat Augie yang saat itu kebetulan sedang online, lalu kuminta nomor teleponnya. Aku segera menghubunginya.
“Halo, ini bener nomor Kak Aji temennya Augie kan ?” tanyaku perlahan.
Lalu terdengar dia menjawab, “Iya, ini siapa ya ?”.
“Ini aku Hanna, temennnya Augie.” Jawabku agak ragu.
“Oh Hanna yang pacarnya itu ya, yang tabah ya” ucapnya dengan nada sedih.
Aku masih heran, “Tabah kenapa ? emang Ugi kenapa ? tadi aku liat wallnya banyak ucapan belasungkawa, siapa yang meninggal kak ?”.
Terdengar dia sedikit kaget, “Emang kamu nggak tau ? Seminggu yang lalu Ugi meninggal, ini aku baru pulang dari tahlilannya”.

Saat kudengar itu, aku tak sadar apa yang terjadi. Aku merasa tubuhku sangat lemas dan tak berdaya. Ternyata aku pingsan seketika.
Malam itu aku hanya menangis dan menangis, tak tau harus bagaimana. Aku memang manusia yang bodoh. Gerutukku sendiri sembari memukul-mukul kepalaku.

**

Hari berikutnya aku semakin murung, seperti anak yang kehilangan ibunya. Padahal saat itu sedang dilaksanakan Ujian Sekolah. Aku sudah tak peduli dengan semua hasilnya, yang ada di pikiranku bagaimana cara aku cepat lulus dan cepat kembali ke Bandung.

**

Keinginan memang tak selamanya menjadi kenyataan, dan kekecewaan pasti akan hadir mengikuti itu semua. Seperti yang terjadi kepadaku sekarang ini. Aku sudah merasakan bagaimana lulus dari SMA. Tapi ternyata impianku untuk kembali ke Bandung tak dapat terwujud, karena Mamah terlalu marah dan tak ingin aku kembali. Aku harus menerima semua itu, dan menunggu saat yang tepat untuk kembali ke kotaku tercinta.

**

Akhirnya saat itu datang, ya tanggal 10 Juli 2012 aku baru bisa kembali ke kotaku. Walaupun hanya untuk berkunjung. Sesampainya disana, segera kuhubungi adik kelasku untuk mengantar mencari makam Augie yang kebetulan ada di daerah pedesaan.
Aku mencari tanpa henti, tanpa mengenal lelah dan terik matahari. Tekadku mengalahkan semua itu, ya.. tekad menebus semua penyesalanku kepadanya. Tak terhitung berapa kali aku salah memasuki jalan, bahkan sampai salah memasuki makam. Saat senja mulai memancarkan sinarnya, barulah aku menemukan makamnya. Mungkin Tuhan ingin melihatku berusaha sangat keras terlebih dahulu.
Tak terasa air mata ini begitu deras mengalir, rasanya tak sanggup untuk beranjak dari tempat itu. Kutaruh bunga yang sudah sangat layu, karena terlalu lama kusimpan di tasku. Kulantunkan berbagai doa yang aku tau untuknya. Kubersihkan semua daun yang berserakan di dekat makamnya. Kulakukan apa yang masih sanggup kulakukan untuknya. Tak peduli dengan keadaannya yang sudah menyatu dengan indah.

Senja kali ini terlihat indah, seindah kenangan senja beberapa tahun yang lalu. Senja yang kuhabiskan bersamamu akan menjadi kenangan terindah dalam hidupku, karena saat ini senja ini hanya dapat kunimkati sendiri.

Terimakasih untuk kado dan surat yang masih sempat kau titipkan sebelum kepergianmu. Bersama tangisan, perjuangan, cinta, dan kenangan yang akan selalu membawamu menjadi raja dihatiku, SELAMANYA …….. (Lagu ini selalu kau nyanyikan didepanku)

***

The best thing 'bout tonight's that we're not fighting
Could it be that we have been this way before?
I know you don't think that I am trying
I know you're wearing thin down to the core

But hold your breath
Because tonight will be the night
That I will fall for you over again
Don't make me change my mind

Or I won't live to see another day
I swear it's true
Because a girl like you is impossible to find
You're impossible to find

This is not what I intended
I always swore to you I'd never fall apart
You always thought that I was stronger
I may have failed, but I have loved you from the start

Oh, but hold your breath
Because tonight will be the night
That I will fall for you over again
Don't make me change my mind

Or I won't live to see another day
I swear it's true
Because a girl like you is impossible to find
It's impossible

So breathe in so deep
Breathe me in, I'm yours to keep
And hold on to your words 'cause talk is cheap
And remember me tonight when you're asleep

Because tonight will be the night
That I will fall for you over again
Don't make me change my mind!

Or I won't live to see another day
I swear it's true
Because a girl like you is impossible to find

Tonight will be the night
That I will fall for you over again
Don't make me change my mind

Or I won't live to see another day
I swear it's true
Because a girl like you is impossible to find
You're impossible to find


Ps. Ini part terakhir. Kalau berminat bisa liat part 1, part 2, dan part 3 . Thanks buat yang udah baca ini sampe abis :). Inget jagalah seseorang yang kamu sayangi selagi dia masih ada disampingmu, kamu akan benar-benar merasa kehilangan setelah dia tak ada lagi di sampingmu.

30 comments:

  1. harus baca part awalnya dulu nih aku :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, sama. aku juga belom baca yang awal2

      Delete
    2. iya silahkan baca dari awal hehe

      Delete
  2. haduuuhh hen, aku dah baca kok dari awal, n akhirnya netes juga air mata aku,,hiks hiks,,,
    ini fiksi kan?? ini gak nyata kan hen?? huuu :'(

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak iva, seperti reality show dah :)
      emang keunggulan ni anak pada nulis karangannya, keren amat. :)

      Delete
    2. @iva beneran nangis ? nih aku kasih kamu tisu, tapi selembar aja ya *perhitungan banget*
      hmm mau tau jawabannya , chat langsung ke Heni Nur Aeni
      @rico masa sih mbah ? ciyus lu

      Delete
  3. aduh aku belum baca keseluruhan hen...
    baru part 1 sama yang ini....
    harus ngulang lagi nih bacanya... haruss!!
    endingnya keren hen... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya ayo kak baca semuanya ya :)
      makasih udah mau baca :D

      Delete
  4. Replies
    1. sedih ya ? ya ampun iya emang sedih :((

      Delete
  5. ko malah jadi mengingatkan perjuangan saiia maen rubik yg gag perna kelar2 iia.. :( hiks.. maaf klu jd OOT :(

    Belajar Photoshop

    ReplyDelete
    Replies
    1. main rubik itu emang susah, saya aja gak bisa-bisa main rubik :(

      Delete
  6. Replies
    1. lu selalu gitu deh, PHP.in gua aja :)

      Delete
  7. saya seneng pas bagian , maaf dan terimakasih ..

    ReplyDelete
  8. musti baca dari awal nih..
    aku baca dari awal dulu ya.. :)

    ReplyDelete
  9. belum baca awalnya.

    kayaknya harus baca dari awal nih bar maknyuss

    #numpang komen dulu

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya kak risah harus baca dari awal hahaha

      Delete
  10. eh, ini fiksi kan.???
    jangan sampek enggak.mengharukan

    ReplyDelete
    Replies
    1. mau tau ? chat langsung ke Heni Nur Aeni hahahaa

      Delete
  11. dulu pernah baca, tapi sekarang udah nggak inget lagi. Mesti baca dari awal lagi nih..

    ReplyDelete
    Replies
    1. ayo bang bay baca dari awal, komen lu gue tunggu banget deh :)

      Delete
  12. aku udah baca dari awal..InsyaAllah ingat yg part 1-3 nya,,
    wah akhirnya sad ending ya hen..sedih juga augie mati :(
    ini dibikin movie keren deh kayaknya..hhe

    pesan terakhirnya keren (y)

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah ide bagus tuh dibikin movie, makasih ya bang fian udah mau setia baca tulisan gue yang jelek ini :)

      Delete
  13. nice,,,!!!

    sutradara,,mana sutradara..????:-D

    ReplyDelete
    Replies
    1. baca dari awal gak ? bilang nice aja hehe

      Delete
  14. Jadi augie lu meninggal hen? Ya allah tp lu udah bs move on kan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya kaka gita kan gue udah ngomong :'(
      gue belum mup on dengan benar :|

      Delete

Udah baca kannn ?
Ayo dong tumpahin aernya *nahlo
BW lah kawan, karna BW sebagian dari iman :))

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...